Zuhud, Cinta Allah, Cinta Rasul [1]
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ada yang mengatakan, apabila hamba mengetahui bahwa kesempurnaan yang hakiki tiada lain kecuali milik Allahﷻ dan setiap yang nampak sempurna dari dirinya atau orang lain adalah dari dan karena Allahﷻ, cintanya hanya milik dan kepada Allahﷻ. Hal itu menuntut keinginan menaati- Nya dan mencintai segala yang mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, mahabbah ditafsirkan sebagai keinginan untuk taat dan kelaziman.
Mengikuti Rasulullahﷺ dalam peribadatannya. Hal itu mengikut Rasulullahﷺ dalam peribadatannya. Hal itu merupakan dorongan menuju ketaatan kepada Allahﷻ, Al-Hasan رضي الله عنه berkata, “Beberapa kaum bersumpah setia di hadapan Rasulullahﷺ.
‘Wahai Rasulullahﷺ, sungguh kami mencintai Tuhan kami.’ Maka turunlah ayat di atas.” Bashar al-Hâfî berkata, “Aku bermimpi bertemu dengan Rasulullahﷺ. Beliau bertanya ‘Wahai Basyar, tahukah engkau, dengan apa Allahﷻ meninggikan kamu di antara kawan-kawanmu?’
“Tidak, wahai Rasulullahﷺ,” jawabku. Beliau bersabda, “Dengan baktimu kepada orang-orang saleh, nasihatmu kepada saudara-saudaramu, kecintaanmu kepada sahabat-sahabatmu dan pengikut sunnahku, dan kepatuhanmu kepada sunnahku.” Selanjutnya Rasulullahﷺ bersabda, “Barangsiapa menghidupkan sunnahku, dia telah mencintaiku. Dan, barangsiapa mencintaiku, pada hari kiamat dia bersamaku di surga.”
Di dalam Hadis masyhur disebutkan bahawa orang yang berpegang pada sunnah Rasulullahﷺ ketika orang lain berbuat kerusakan dan terjadi pertikaian di antara para penganut mazhab, dia memperoleh pahala dengan seratus pahala syuhada. Demikian disebutkan dalam Syari‘ah al-Islâm.
Rasulullahﷺ berkata, “Semua umatku masuk surga kecuali orang yang tidak menginginkannya.” Para sahabat bertanya “Siapa yang tidak menginginkannya?”
Rasulullahﷺ menjawab, “Orang yang menaatiku masuk surga, sedangkan orang yang durhaka kepadaku tidak menginginkan masuk surga. Setiap amalan yang tidak berdasarkan sunnahku adalah maksiat.”
Seorang ulama sufi berkata, “Kalau Anda melihat seorang guru sufi terbang di udara, berjalan di atas laut atau memakan api, dan sebagainya, sementara dia meninggalkan perbuatan fardhu atau Sunnah secara sengaja, ketahuilah bahwa dia berdusta dalam pengakuannya. Perbuatannya bukanlah karâmah. Kami berlindung kepada Allahﷻ, dari yang demikian.”
Al-Junayd رضياللهعنه berkata, “Seseorang tidak akan sampai kepada Allahﷻ, kecuali melalui Allahﷻ,. Jalan untuk sampai kepada Allahﷻ adalah mengikuti al- Mushthafâ (Nabi Muhammad) Rasulullahﷺ"
(والله أعلمُ بالـصـواب)


Comments
Post a Comment