Zuhud -Cinta Allah,Cinta Rasul [2]
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Al-Junayd رَحِمَهَا ٱللَّٰهُ,berkata, “Guruku al-Sarî رَحِمَهَا ٱللَّٰهُ, jatuh sakit. Kami tidak tahu obat untuk menyembuhkan penyakitnya dan juga tidak tahu sebab sakitnya. Tabib yang berpengalaman memberikan resep kepada kami. Oleh karena itu, kami menampung air seninya ke dalam sebuah botol. Lalu, tabib itu melihat dan mengamatinya dengan seksama.
Kemudian dia berkata, ‘Aku melihat air seni ini seperti air seni seorang pencinta (al-‘âsyiq).’ Aku seperti disambar petir dan jatuh pingsan. Botol itu pun jatuh dari tanganku. Kemudian, aku kembali kepada al-Sarî dan mengabarkan hal itu kepadanya. Dia tersenyum dan berkata: ‘Allahﷻ mematikan apa yang dia lihat.’ Aku bertanya, ‘Wahai guru, apakah mahabbah itu tampak jelas dalam air seni?’ Dia menjawab, ‘Benar.’”
Al-Fudhayl رَحِمَهَا ٱللَّٰهُ, berkata, “Apabila ditanyakan kepadamu, apakah engkau mencintai Allahﷻ? Diamlah. Sebab, jika engkau menjawab ‘tidak’, engkau menjadi kafir. Sebaliknya, jika engkau menjawab ‘ya’, berarti sifatmu bukan sifat para pencinta Allahﷻ. Maka waspadalah dalam mencintai dan membenci (sesuatu).”
Sufyân berkata, “Barangsiapa mencintai orang yang mencintai Allahﷻ, berarti dia mencintai Allahﷻ. Barangsiapa memuliakan orang yang memuliakan Allahﷻ, berarti dia memuliakan Allahﷻ.
Sahl berkata, “Tanda cinta kepada Allah adalah cinta kepada al-Quran. Tanda cinta kepada Allahﷻ dan Al-Quran adalah cinta kepada Rasulullahﷺ. Tanda cinta kepada Rasulullahﷺ adalah cinta kepada Sunnahnya. Tanda cinta kepada Sunnahnya adalah cinta kepada akhirat. Tanda cinta kepada akhirat adalah benci dunia. Tanda benci dunia adalah tidak mengambilnya kecuali sebagai bekal dan perantara menuju akhirat.”
Abû al-Hasan al-Zanjânî berkata, “Pokok ibadah itu adalah tiga anggota badan, yaitu telinga, hati, dan lidah. Telinga untuk mengambil pelajaran, hati untuk bertafakur, sedangkan lidah untuk berkata benar, bertasbih, dan berdzikir.
Sebagaimana Allahﷻ befirman:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًۭا كَثِيرًۭا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةًۭ وَأَصِيلًا ٤٢,٤١
"Berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak- banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang"
(QS al-Ahzâb [33]: 41-42).”
Demikian dikutip dari Raunaq al-Majâlis. Al-Sarî رضي الله عنه berkata, “Aku bersama al-Jurjânî melihat tepung. Lalu, al-Jurjânî menelannya. Aku tanyakan hal itu kepadanya: ‘Mengapa engkau tidak memakan makanan yang lain?’ Dia menjawab, ‘Aku hitung di antara mengunyah dan menelan itu ada tujuh puluh kali tasbih. Karena itu, aku tidak pernah lagi memakan roti sejak empat puluh tahun yang lalu.’”
(والله أعلمُ بالـصـواب)



Comments
Post a Comment