Sunday

Kejujuran Dalam Islam

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

Kejujuran merupakan tiang utama bagi manusia untuk menegakkan kebenaran dan segala sesuatu yang haq di muka bumi. Allah pun berfirman dalam al Quran: 

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًۭا سَدِيدًۭا ٧٠

 Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar”.

(Ahzab ayat 70)

Dalam agama Islam terdapat beberapa macam sifat jujur yang dibedakan berdasarkan penerapan sifat jujur tersebut, sebagai berikut:

  1. Jujur dalam niatnya atau kehendaknya, artinya seseorang terdorong untuk berbuat sesuatu atau bertindak dengan dorongan dari Allah
  2. Jujur dalam ucapan, yaitu seseorang yang berkata sesuai dengan apa yang dia ketahui atau terima. Ia tidak berkata apapun, kecuali perkataan tersebut merupakan kejujuran.
  3. Jujur dalam perbuatan, yaitu seseorang yang beramal dengan sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang ada dalam batinnya.
  4. Jujur dalam janji, artinya dia selalu menepati janji yang telah diucapkan kepada manusia. dia hanya mengucapkan janji yang dia tahu bisa dia tepati. 
  5. Jujur sesuai kenyataan, yang berarti dia menerapkan kejujuran pada segala hal yang dia alami di hidupnya.

Sebagai manusia yang berharap meraih surga, kita harus berusaha untuk menerapkan kejujuran dalam semua hal di atas. Meskipun penerapannya pasti sungguh sulit, kita harus selalu berusaha untuk menjauhkan diri dari sifat dusta atau khianat. Begitu banyak godaan ataupun cobaan yang mendorong kita untuk berbuat tidak jujur. Namun, kita harus ingat bahwa barang siapa yang mampu mewujudkan sifat jujur dalam segala aspek kehidupannya, maka dia akan tercatat sebagai seorang hamba yang shiddiqin dan kehidupan dunia akan membawanya ke surga di akhirat kelak.

Mewujudkan kejujuran dalam segala aspek kehidupan seperti yang disebutkan di atas secara tidak langsung akan menjauhkan kita dari perbuatan-perbuatan yang dilarang. Misalnya, dia tidak akan bersifat riya’, karena dia jujur dengan niatnya melakukan sesuatu yang hanya mencari ridho Allah. Dia juga akan menjauh dari ghibah atau perbuatan fitnah, karena dia jujur dengan ucapannya yang tidak akan berbohong, apalagi jika menyangkut orang lain. Masih banyak lagi manfaat berbuat jujur yang bisa menyelamatkan kita dari perbuatan yang dosa.

Pahala untuk Orang yang Jujur

Telah kita bahas sejak awal bahwa kejujuran bisa membawa kita ke dalam ampunan Allah. Tentu hal ini merupakan keinginan semua manusia. namun, apakah hanya itu saja balasan bagi orang-orang yang bersifat jujur? Berikut ini akan dibahas janji yang diberi oleh Allah untuk orang-orang yang menjunjung tinggi kejujuran:

  1. Masuk surga

Hal ini tercermin dalam hadis riwayat Muslim, dimana Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian (berbuat) jujur! Sesungguhnya jujur menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukkannya ke Surga. Dan senantiasa seorang (berbuat) jujur dan menjaga kejujurannya hingga ditulis di sisi Allah sebagai Ash-Shiddiq (orang yang jujur)”. 

  1. Dekat dengan para Nabi

Allah berfirman dalam al Quran:

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّـٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَـٰٓئِكَ رَفِيقًۭا ٦٩

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh, mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya”.

(An Nisaa’ ayat 69,)

Hal ini pasti merupakan impian setiap muslim, untuk bisa bersama dengan para nabi, para sahabat dan orang-orang sholeh. Ganjaran ini merupakan kenikmatan karena kita digolongkan sama derajatnya dengan orang-orang yang mulia di sisi Allah.

  1. Membuat hati tenang

Tidak hanya ganjaran di akhirat, berbuat jujur ternyata juga akan membawa kenikmatan di dunia. Dengan berbuat jujur, kita akan merasakan hati yang tenang, bebas dari kekhawatiran dan rasa was-was yang tidak perlu.

Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku hafal dari Rasulullah, ‘Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan bohong adalah kecemasan”. Sungguh Rasulullah yang telah menganugerahkan ganjaran mulia langsung di dunia untuk orang-orang yang jujur.

  1. Menaikkan derajat

Rasulullah bersabda, “Barang siapa meminta kepada Allah mati syahid dengan jujur, Allah angkat dia ke tingkatan orang-orang yang syahid”

  1. Mendatangkan berkah;

Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda, 

Penjual dan pembeli (memiliki) pilihan sebelum mereka berdua berpisah, jika berdua berkata jujur dan menjelaskan (kekurangannya) maka diberkahi jual beli mereka. Dan jika berdua menyembunyikan (kekurangan) dan berbohong maka dihapus keberkahan jual beli mereka berdua”.

Dari ganjaran yang disebutkan di atas, kita mengetahui bahwa kenikmatan yang didapat oleh orang-orang yang berbuat jujur, tidak hanya diterimanya di akhirat, namun juga diterimanya di dunia. Maka, alangkah baiknya jika kita mulai membiasakan berbuat jujur dan menjauhkan diri dari perbuatan dusta atau bohong yang menjauhkan kita dari rahmat Allah.

Wallahu a’lam bishawab.



Cinta Yang Sejati

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


CINTA, lima huruf ini memegang keajaiban yang mengisi dunia kita dengan warna dan kebahagiaan. Kadang-kadang kita mendapatnya dan kadang-kadang kita kehilangannya, tetapi akhirnya ia kekal dalam hati kita, dalam hidup kita kekal jadi nyata atau gagal jadi kenangan. Kita semua menyaksikan tragedi cinta yang sebenar, tidak semua cinta berakhir dengan perkahwinan dan yang tidak semuanya kekal selama-lamanya. 

Apabila anda jatuh cinta dengan seseorang dan itu benar dan apabila ia tidak, Anda rasa dunia akan berakhir untuk anda dan harapan untuk hidup hilang entah ke mana. Anda memisahkan diri anda daripada rakan sekerja dan keluarga dan menetap dalam kemurungan yang merosot. Perasaan yang anda miliki sekarang telah dirasai oleh hampir semua orang yang berhadapan dengan kegagalan cinta. Tetapi anda perlu terus bergerak ke hadapan dan untuk ini, anda perlu mencari ikhtiar yang betul.

Cinta adalah emosi tulen yang menyentuh semua orang dalam hidup. Tetapi apabila hubungan berakhir ia membawa emosi kesedihan dan kesedihan yang tidak berkesudahan. Perpisahan atau kegagalan cinta membuatkan orang hanya membawa kenangan tentang orang yang mereka sayangi. Petikan dan kata-kata kegagalan cinta ini akan menyentuh hati anda jika anda melalui situasi seperti ini dan berasa hancur.

Petikan Kegagalan Cinta Yang Indah

Kata-kata indah tentang kegagalan cinta ini akan membantu anda meluahkan perasaan patah hati anda. Terdapat banyak detik gembira dalam kehidupan seseorang ketika dalam hubungan, tetapi apabila hubungan itu gagal dan anda berpisah dengan orang yang anda sayangi, kesedihan dan kesakitan boleh menjejaskan anda dengan teruk. 

Tiada siapa yang mahu berada dalam hubungan yang tidak memberi manfaat kepada mereka, dan kekal dalam hubungan yang salah boleh lebih menyakitkan daripada perpisahan, itulah sebabnya kadang-kadang orang perlu membuat keputusan. Ahli terapi kaunseling atau kaunselor dalam talian juga boleh membantu anda apabila anda mendapati diri anda dalam dilema, di mana anda tidak dapat membuat keputusan untuk putus atau kekal dalam hubungan.

Bagi orang yang berbeza, sebab untuk memutuskan hubungan juga boleh berbeza tetapi kesakitan dan kesedihan adalah sama. Apabila anda merasakan bahawa orang yang paling anda sayangi, tidak mengambil berat tentang anda lagi, ia paling menyakitkan selepas perpisahan. Sesetengah orang boleh menyembunyikan kesakitan mereka dan yang lain cuba meluah-kannya dengan cara yang berbeza. Petikan tentang kegagalan cinta ini boleh membantu anda meluahkan perasaan anda selepas menamatkan hubungan anda.

Berikut adalah beberapa petikan kegagalan cinta yang akan membantu anda mendapatkan semula keyakinan diri anda dan meneruskan daripada putus cinta.

Cinta Terhebat Semua.

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًۭا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّۭا لِّلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ إِذْ يَرَوْنَ ٱلْعَذَابَ أَنَّ ٱلْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًۭا وَأَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعَذَابِ ١٦٥

(Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (untuk menyembah) selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Tetapi orang-orang yang beriman, lebih mencintai Allah (dari segala sesuatu)) 

(Al-Baqarah 2: 165)

Berapa ramai orang yang sudah berkahwin mengingati hari mereka memandang ke arah pasangan mereka dan menyedari pada masa itu bahawa mereka sedang bercinta? Dan berapa ramaikah wanita Islam yang mengingati cinta, kegembiraan, dan kebahagiaan yang masuk ke dalam hati mereka pada hari mereka melahirkan? 

Walaupun contoh-contoh ini adalah realiti kehidupan, cinta sejati yang saya katakan adalah cinta yang memenuhi semua hati, tanpa berat atom yang tidak disentuh. Di dalam hati kita tetap ada kekosongan, yang benar-benar dapat diisi hanya dengan cinta kepada Dia yang memberi kita kehidupan. Jenis cinta yang paling murni, paling tinggi, dan paling mulia yang wujud adalah cinta kepada Dia yang hati diciptakan untuk mencintai. 

Oleh itu, kepuasan sejati, keselesaan sejati, dan cinta sejati hanya boleh datang dari Pencipta kita, Allahﷻ. Semua kecuali Allahﷻ dicintai kerana cinta yang mereka berikan sebagai balasan. Tetapi Dia dikasihi demi Dia sendiri, dalam segala hal. Akibatnya, semua kebaikan yang berlaku adalah salah satu buahnya dan cabang dari akarnya. 

Cinta kepada Allahﷻ adalah cinta yang sangat besar, ia tidak pernah berhenti untuk diakui, tidak pernah wujud tanpa penghargaan, dan mendatangkan keberkatan sejati bagi orang yang menyimpannya. Apabila anda sangat mencintai seseorang, anda sanggup melakukan apa sahaja untuk mendapatkan kesenangannya. Jadi bagaimana dengan Tuhan kita? 

Tidakkah Dia layak membuat kita berkenan kepada-Nya dalam semua perkara yang kita lakukan? Jika persoalan cinta diajukan kepada mana-mana Muslim, tidak ada yang akan menafikan cinta mereka kepada Allahﷻ. Namun, hakikatnya, cinta yang dituntut tidak benar-benar wujud di dalam hati, kerana jika ia berlaku, tindakan tubuh badan tidak akan bertentangan dengan tuntutan. Oleh itu, untuk orang yang benar-benar menjadi kekasih Allahﷻ, kehidupan mereka harus menunjukkan bukti cinta ini.



 


Saturday

Mendambakan Hidup Bahagia

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ



Keinginan untuk kebahagiaan adalah keinginan semula jadi, dan kedua-dua ahli falsafah kemanusiaan dan Islam bersetuju bahawa kebahagiaan adalah penghujung akhir, tetapi mereka berbeza pendapat tentang apa tujuan kebahagian dan bagaimana ia harus dicapai. Persoalan utama yang dikemukakan oleh ahli falsafah ialah sama ada kebajikan cukup untuk kebahagiaan, atau sama ada mereka memerlukan barangan luaran seperti kesihatan, kekayaan, dan kawan untuk memenuhi kebahagiaan. 

Kita tahu dari pengalaman bahawa keterikatan yang penuh ghairah kepada barangan luaran seperti kekayaan dan harta benda boleh menyesatkan tujuan kehidupan manusia. Walau bagaimanapun, kita juga tidak boleh menolak idea bahawa barangan luaran ini adalah perlu untuk menyumbang kepada kesejahteraan kita dan untuk memupuk nilai murni.

Tambahan pula, perlu diingat bahawa  Al-Quran bukan semata-mata intelektual, tetapi ia terikat dengan diagnosis penderitaan manusia dan konsep intuitif tentang perkembangan manusia. Oleh itu, ahli etika Islam, dalam percubaan mereka untuk bergelut dengan penderitaan manusia, cuba untuk menyatakan cara hidup di dunia. Mereka tidak hanya berfalsafah tentang etika demi keseronokan akademik. Mereka memberi rumusan teori keinginan yang tidak wajar yang mereka percayai sebagai punca penyakit manusia, sama ada secara fizikal, psikologi, atau rohani. 

Falsafah moral kontemporari banyak yang perlu dipelajari daripada kebijaksanaan falsafah Islam jika ia ingin bergerak melangkaui pendidikan hidup manusia dan mengambil tempatnya dalam kehidupan seharian se-orang insan. Dalam membaca karya-karya ahli etika Islam abad ke-11 seperti al-Isfahani dan al-Ghazali, seseorang mendapati bahawa gaya falsafah-sastera mereka melibatkan seluruh jiwa pembaca dengan cara yang tidak dilakukan oleh risalah prosa etika yang abstrak dan tidak peribadi.

Sebaiknya dalam kita mengejar istilah mencari kebahagian hidup didunia, wajiblah  menjadikan agama sebagai  sempadan yang tegar, agar kita tidak terjebak dengan "wahan"atau cinta dunia yang berlebihan. Seorang insan itu dikatakan bahagia, bila dia sentiasa rasa bersyukur dengan apa yang didapatinya dan bersabar dengan tarikan dunia yang kadang kala menjadi dia "hubbud dunya"  atau cinta dunia.

Tidak Puas dengan Dunia,

                                                 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Merasa berpuas hati sangat penting dalam kehidupan seharian kita. Jika seseorang berpuas hati, dia akan hidup dengan aman, harmoni, dan bahagia. Kualiti ini tidak boleh dibeli atau diperoleh melalui kekayaan, harta, kedudukan atau kemasyhuran. Jika seseorang tidak berpuas hati, dia akan gilakan dirinya. Dia akan melakukan yang terbaik untuk memenuhi keperluannya, tetapi dia tidak akan pernah gembira atau berpuas hati. Dia tidak akan pernah merasa tenang. Dia mungkin akhirnya menjadi skizofrenia dan dia mungkin terus hidup dalam kebimbangan dan mengalami gangguan mental.

Masyarakat kapitalis memberikan tekanan yang berat kepada individu supaya menghasilkan atau binasa dan bersaing atau dipecat. Sistem ekonomi sebegini menjadikan yang kaya lebih kaya dan yang miskin semakin miskin. Dalam masyarakat sedemikian tidak ada kepuasan, tiada kepuasan, dan tiada kebahagiaan. Perkara yang sama perlu diterapkan kepada masyarakat bukan Islam yang lain. Krisis dan kemelut psikologi ini memang berlaku dalam mana-mana masyarakat Islam, di mana umat Islam tidak mengamalkan ajaran Islam. Oleh itu, kita telah dinasihatkan oleh Allah dan Rasulullah tentang cara untuk berpuas hati.

Al-Qur’an penuh dengan ayat-ayat yang menasihati kita agar tidak terpengaruh dengan godaan duniawi. Berikut adalah pilihan beberapa Ayat mengenai perkara ini.

Di satu tempat, Allah memberitahu kita di dalam Surah Al-Kahfi bahawa kita tidak boleh terlalu menikmati perkara yang baik; iaitu kekayaan dan anak-anak:

ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَـٰقِيَـٰتُ ٱلصَّـٰلِحَـٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًۭا وَخَيْرٌ أَمَلًۭا ٤٦

Harta benda dan anak pinak itu, ialah perhiasan hidup di dunia; dan amalanl 

soleh yang kekal faedahnya itu lebih baik pada sisi Tuhanmu sebagai 

pahala balasan, dan lebih baik sebagai asas yang memberi harapan. 

(Al-Kahf: 46

 Di tempat lain, Allah memberitahu kita dalam Surah Al-Hadid bahawa urusan dunia adalah hiburan sementara di mana orang boleh tertipu:


ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّۭا ثُمَّ يَكُونُ حُطَـٰمًۭا ۖ وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ عَذَابٌۭ شَدِيدٌۭ وَمَغْفِرَةٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌۭ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ ٢٠

 "Ketahuilah kamu (semuanya), bahawa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan bermegah-megah dan berbanyak-banyak, harta kekayaan dan anak-anak kamu. keluarlah, menggembirakan (hati) orang-orang yang bercocok tanam, kemudian ia menjadi kering, kamu akan melihatnya menjadi kuning, kemudian menjadi kering dan hancur lebur, tetapi di akhirat beroleh azab yang pedih (bagi orang-orang yang berbuat zalim) dan keampunan dari Allah. dan keredhaan-Nya (bagi hamba-hamba Allah.. Dan apakah kehidupan dunia ini, melainkan harta benda dan harta benda yang menipu?

(Al-Hadid: 20)


Di tempat lain, Allah berpesan kepada kita dalam Surah Ali-Imran supaya tidak terpengaruh dengan godaan duniawi dan tarikannya:


ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ ۖ 

كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّۭا ثُمَّ يَكُونُ حُطَـٰمًۭا ۖ وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِعَذَابٌۭ 

شَدِيدٌۭ وَمَغْفِرَةٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌۭ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ ٢٠

  
"Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia: kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak; harta benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak; kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih; dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia. Dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (iaitu Syurga)..” 

(Al-Imran: 14)

      Agar hidup aman dan harmoni, agar tidak tertipu oleh hiburan duniawi, agar tidak terganggu dengan apa yang orang lain miliki, dan untuk merasa puas dan puas dengan apa yang ada; Rasulullah menasihati melihat orang yang lebih rendah daripada kita. Dengan melihat keadaan mereka yang kurang gaji, kurang jawatan, kurang harta, dan kurang harta, kita akan bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang kita perolehi dalam hidup. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:

"Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kamu, dan jangan lihat kepada orang yang lebih tinggi daripada kamu, supaya kamu tidak menghinakan nikmat Allah kepada kamu."

(Mutfakun Alaih)

Untuk mengelakkan kebimbangan dan untuk mengelakkan kebimbangan dan kegelisahan, seseorang itu perlu berpuas hati dan berpuas hati dengan apa yang dia ada. Untuk memenuhi keperluan, keinginan, dan keperluan duniawi anda, seseorang harus melihat keadaan mereka yang kurang berfaedah. Dalam hal ini, berikut ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Rasulullah bersabda:

"Apabila seseorang melihat orang yang lebih baik harta dan kecantikannya, hendaklah dia melihat kepada orang yang lebih rendah daripadanya."

(Bukhari).

Untuk bertengkar, seseorang harus ingat bahawa dia tidak boleh menipu orang lain untuk mendapatkan sebahagian daripada keuntungan duniawi harta dan harta. Dia tidak sepatutnya menjalankan kehidupan akhirat. Dia sepatutnya mempunyai tahap kepuasan dalam mendapatkan apa yang dia sasarkan. Dia harus mengakui bahawa dia tidak akan hidup kekal di sini. Dia harus sedar bahawa dengan mengejar kehidupan, dia akan menjadi hamba kepada dunia ini.Rasulullah bersabda:

“Tinggalkan kenikmatan dunia, niscaya Allah akan menyukaimu, dan tinggalkan apa yang orang lain miliki, niscaya manusia akan menyukaimu.”

Dalam hadis lain, Rasulullah memberi amaran kepada semua orang yang ingin mendapatkan wang, harta dan harta. Dia memberi amaran kepada mereka untuk tidak membuat diri mereka gila untuk perkara-perkara ini. Rasulullah  bersabda: “Celakalah orang yang menyembah dinar dan dirham; orang yang mengejar baldu dan pakaian yang panjang. Jika dia diberi daripada mereka, dia akan berpuas hati; tetapi jika dia tidak diberikan daripada mereka, dia tidak akan redha.”

(Bukhari)

Kepuasan adalah harta yang tidak akan pernah habis. Kita perlu redha dan berpuas hati dengan sedikit yang kita ada. Kami melakukan yang terbaik; kita berusaha bersungguh-sungguh dan serahkan hasilnya di tangan Allah. Ingatlah bahawa Rasulullah  tidak pernah meninggalkan apa-apa selepas kematiannya kecuali kudanya, senjatanya, dan keamanan tanah yang diamanahkan untuk digunakan sebagai sedekah.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ


By Dr. A. Sakr

Awal Agama Mengenal Allahﷻ.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته



Ma'rifatullah secara bahasa bermaksud mengenal Allah.
Mengenal Allah dan mencintai-Nya adalah kewajiban dan tuntutan yang paling utama dalam Islam.


Dalam hal ini, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: 

"Semakin bertambah ilmu seorang hamba tentang Allah azza wa jalla, semakin bertambah rasa takut dan takwanya hamba kepada-Nya."

Ilmu yang diperoleh ini kemudiannya akan menimbulkan perasaan malu, menyanjung, menyanjung, rasa sentiasa diperhatikan, cinta, amanah, sentiasa ingin kembali, serta redha dan tunduk kepada perintah-Nya.

Dalam sumber lain disebutkan Syaikh Abdurrahman as-Sa'di Rahimullah berkata, semakin banyak pengetahuan seseorang tentang Allahﷻ, rasa takut akan membuatnya selalu menjauhi perbuatan maksiat, karena ia selalu mempersiapkan diri. untuk bertemu dengan Dzat yang dicintainya. .

Sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala, antara lain sebagai berikut:.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ١٠٢

Maksudnya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kita mati melainkan dalam keimanan orang-orang Islam." 

(QS. Ali Imran [3]: Ayat 102)



وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ ٩٩

Maksudnya: "Dan sembahlah Tuhanmu sehingga kamu yakin (ajal) datang kepadamu." 

(QS. Al-Hijr [15]: 99)


وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ ٥

Artinya: “Padahal mereka hanya disuruh menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama...” 

(QS. Al-Bayyinah [98]: Ayat 5)

Ma'rifatullah adalah puncak kesedaran yang menentukan perjalanan hidup seorang hamba menuju Tuhannya. Dengan ma'rifatullah, seorang hamba dapat mengetahui tujuan hidup yang sebenar.

Ma'rifatullah ialah prinsip perjalanan rohani manusia secara keseluruhan. Orang yang mengenal Allahﷻ akan merasakan hidup mereka lapang, tenang, dan hidup dalam jarak yang panjang antara sabar dan bersyukur.

Puncak ilmu ialah mengenal Allahﷻ. Seseorang itu dikatakan berjaya dalam menuntut atau menuntut ilmu jika mengenali dan mendekatkan diri kepada Allahﷻ. Sehingga sekolah yang tinggi, darjat yang banyak, harta yang melimpah dan kedudukan yang tinggi, harus digunakan oleh seorang hamba sebagai sarana untuk mendekatkan dirinya, lebih akrab, dan lebih taat kepada Allahﷻ.

Ma'rifatullah adalah nikmat yang sangat besar. Mengenal Allahﷻ akan melahirkan akhlak yang mulia. Apa tidaknya, dengan mengenal Allahﷻ kita akan merasa ditatap, didengari dan dipedulikan oleh Allahﷻ, sehingga langkah dan gerak kita tertuju pada jalan yang dikehendaki oleh Allahﷻ. Inilah keseronokan hidup yang sebenar.

Dengan Ma'rifatullah hidup menjadi tenang, tenang, ringan dan bahagia. Sebaliknya, jika kita jauh dari Allahﷻ, hidup akan terasa berat, sempit, sengsara, tenggelam dalam lumpur dosa, dan terus hidup dalam masa dan ruang kehinaan.

Allahﷻ berfirman dalam Al Quran, maksudnya adalah sebagai berikut;

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةًۭ ضَنكًۭا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ أَعْمَىٰ ١٢٤

Maksudnya: "Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." 

(QS Thaha [20]: Ayat 124)

Ciri orang yang mengenal Allahﷻ ('arif billah) ialah dia tidak takut dan tidak bersedih dengan urusan dunia. Oleh sebab itu, kualiti kebijaksanaan seseorang dapat diukur apabila wujudnya perasaan bimbang dan takut kehilangan dunia. Orang yang berakal, suka dan dukanya tidak diukur dengan kehadiran atau ketiadaan dunia, tetapi diukur dengan kedekatannya kepada Allahﷻ.

Orang yang berakal akan sentiasa menjaga kualiti ibadahnya. Kerana dengan menjaga ibadah, banyak manfaat dan kelebihan dalam hidup anda, antaranya sentiasa berada di jalan yang benar dalam kehidupan seharian, mempunyai kekuatan untuk menghadapi dugaan hidup, Allahﷻ akan sentiasa memberikan anugerah. keberkatan dalam hidupmu, sentiasa merasai kemanisan dalaman.menghadapi kepahitan hidup, menguasai sepenuhnya dalam hidup, sentiasa berada di bawah bimbingan dan pertolongan Allahﷻ, dan memiliki semangat iman yang kuat.

Sarana yang boleh membawa hamba kepada ma'rifatullah termasuklah akal (al-'aqlussalim). Jika akal manusia digunakan untuk berfikir dan merenung apa yang ada di sekelilingnya dari ciptaan Allahﷻ, ia boleh membawa pemiliknya kepada menyempurnakan ma'rifatullah.

Al-Quran menjelaskan dalam pelbagai ayat tentang pengaruh renungan makhluk sebagai alat untuk mengenali Pencipta. Allahﷻ berfirman dalam Al Quran:


إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ ١٩٠

ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَـٰطِلًۭا سُبْحَـٰن فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan makhluk. langit dan bumi (sambil berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

 (QS Ali Imran [3]: Ayat 190-191).

 

Sesuai dengan firman Allahﷻ Rasulullahﷺ bersabda;

Maksudnya: "Fikirkan tentang ciptaan Allahﷻ dan jangan fikirkan tentang Zat Allahﷻ." 

(HR Abu Nu'aim)

Kemudian, satu lagi cara yang tidak kurang pentingnya dalam mengenal Allahﷻ ialah dengan mengenali nama dan sifat Allahﷻ, disertai dengan renungan makna dan pengaruhnya terhadap kehidupan ini.

Inilah kaedah yang Allahﷻ gunakan untuk memperkenalkan diri kepada makhluknya. Dengan asma’ dan sifat ini, terbukalah jendela untuk manusia mengenali Allah subhanahu wata’ala dengan lebih dekat.

Asma' dan sifat Allahﷻ akan menggerakkan dan membuka hati manusia untuk menghadirkan sinaran Allahﷻa.

Allahﷻ berfirman dalam Al Quran;

قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَـٰنَ ۖ أَيًّۭا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَٱبْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًۭا ١١٠

“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama apa pun yang kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu meninggikan suaramu dalam solat dan janganlah kamu merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara keduanya.” 

(QS Al-Isra [17]: Ayat 110)

Berhubung dengan hati, hati manusia mempunyai tiga bahagian, antaranya berikut.

1. Hati Mati

Hati yang mati ialah hati orang-orang kafir yang menolak setiap kebenaran yang hakiki, menolak al-Quran, menolak as-Sunnah dan tidak meyakini adanya Allahﷻ serta tidak mengiktiraf kenabian  Rasulullah sebagai utusan-Nya yang terakhir.

2. Hati yang sakit

Hati yang sakit adalah hati orang munafik. Dia beragama Islam, tetapi adakalanya menolak ajaran Islam yang sebenar dan sentiasa menyalahi perintah dan larangan Allahﷻ sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

Namun, orang yang "sakit hati" boleh diubati dengan kesedaran diri orang itu, kemudian dia kembali ke jalan yang benar dengan sentiasa dekat dan terus belajar serta mendengar nasihat ulama dan orang-orang soleh.

3. Hati yang Tenang

Dalam kategori ketiga ini, hati yang tenang dianugerahkan oleh Allahﷻ subhanahu wata'ala kepada orang-orang yang beriman dan sentiasa berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnah, meminta kepada ulama dan orang yang berhujah serta sentiasa mendengar nasihat mereka. 

(Perhubungan Awam dan Media FAJR/Masjid Istiqlal)



Friday

Ikhlas Dalam Beribadah



Ikhlas merupakan salah satu peranti awal dalam beribadah kepada Allah setelah berniat mengerjakan nya. Kerana ikhlas merupakan salah satu syarat penting diterimanya amal ibadah kita oleh Allah. Ikhlas yang tulus dan benar hanya dengan meniatkan segala yang kita lakukan semata-mata hanya kerana  Allah demi mengharap ridho-Nya.

Sedemikian, sehingga yang dimaksudkan dengan ikhlas dalam beribadah adalah meniatkan segala macam ibadah yang dilakukan semata-mata hanya kerana Allah demi mengharap ridho-Nya. Sebagaimana yang terdapat pada rukun iman ke 1, iaitu Iman kepada Allah. Ini puncak segala keikhlasan, beriman hanya pada Allahﷻ itu adalah mutlak  lagi hakiki. Bagi manusia yang tidak beriman kepada Allahﷻ itu puncak kezaliman yang mutlak juga. Mana mungkin tanpa izin dan pilihan Allah kita tidak akan dilahirkan ke dunia

Pertama sekali, ia adalah perkara yang sama yang mempunyai makna yang sama dengan orang yang mempunyai pilihan yang sama bermula segala perbuatan amal yang ma'ruf dimulai dengan niat yang di iringi keikhlasan. Kerana hanya dengan keikhlasan-lah ibadah yang kita lakukan akan diterima oleh Allah dan dicatat sebagai amal soleh yang akan menjadi bekal kita dalam kehidupan akhirat.

Ramai diantara kita yang sudah mempunyai keluarga, ada isteri dan anak-anak yang diamanahkan untuk suami menjaga tanggungannya dengan kejujuran yang benar-benar ikhlas. Setiap niat yang ikhlas dalam menyediakan keperluan mereka seperti tempat tinggal, makan minum, kasih sayang dan pendidikan umum juga agama adalah Amal ma'ruf yang juga ibadah mulia.  Mendidik mereka tentang wajibnya menunaikan solat, dan apa juga ibadah wajib dan sunnah merupakan ibadah yang tinggi nilainya disisi Allahﷻ. Berbuat baik dengan jiwa yang ikhlas dan berbudi bahasa yang saling menyayangi anak-anak itu tetaplah kejujurannya kepada Allahﷻ akan dinilai sebagai satu ibadah. 

Berikut beberapa ciri-ciri orang yang tidak ikhlas dalam beribadah kepada Allah, diantaranya:

1.Terlalu berharap kepada makhluk

Salah satu daripada empat khalifah yang mendapat julukan gerbangnya ilmu, iaitu Sayyidina Ali رضي الله عنه .  Beliau pernah mengatakan bahawa orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkannya. Kerana setiap amal ibadah pada hakikatnya adalah kita sedang melakukan interaksi dengan Allah sehingga harapan yang ada hanyalah kepada mencari keridhoan Allah semata.

2.Sering sekali merasa kecewa dalam hidupnya

Orang yang benar-benar ikhlas dalam ibadahnya tidak akan pernah mengubah sikapnya walaupun disaat dia melakukan suatu amal kebaikan ada/tidak ada orang yang memuji kebaikannya. Bahkan dicaci maki pun apabila hal yang dilakukan adalah benar menurut ajaran Allah dia akan tetap melakukannya tanpa mundur sedikitpun.

Sedemikian sehingga orang yang tidak ikhlas dalam ibadahnya akan menunjukkan sikap yang sebaliknya. 

3.Mengumbar amal kebaikannya.

Seperti kata pepatah bahawa jangan tangan kirimu sampai tahu ketika tangan kananmu berbuat kebaikan  cuma mengharap ridho Allah.

Namun apabila orang tersebut tidak ikhlas, dia pasti akan mengungkit atau mempamerkan amal baik tersebut sehingga orang lain memujinya dan menganggapnya sebagai orang baik. Bukankah orang baik tidak perlu menunjukkan kepada orang lain bahawa dia itu baik? Kerana semuanya akan tercermin daripada tingkah laku yang dilakukannya sehari-hari sehingga walaupun tidak dipamerkan orang akan tetap boleh bertindak daripada tingkah laku tersebut.

4. Membeda-bedakan amal.

Dalam pengerti'an  orang yang ikhlas tidak akan membezakan mana amal baik yang kecil atau besar. Hal ini juga akan dapat dijauhkan dari Allah Ini mungkin tugas yang sukar atau sesuatu yang lain daripada yang lain, yang mungkin lebih baik daripada yang lain.

Tempat ini mempunyai kumpulan besar orang yang boleh menggunakannya dan mengeluarkannya daripada Allah, di mana-mana tempat itu. Jika Allah mengasihani kamu, kamu akan dibalas dengan kurniaan Allah, insya-Allah kamu tidak akan mampu melakukan apa-apa dengan hati, tetapi kamu tidak akan dapat melakukan apa-apa dengannya.

5. Membeda-bedakan orang atau golongan

Orang yang ikhlas dalam beramal dan menjadikan sebagai media untuk beribadah kepada Allah niscaya dia akan berbeza-beza makhluk ciptaan-Nya, baik daripada golongan Islam atau bukan islam, tua atau muda, kaya atau miskin, dan lain-lain. Ini adalah apa yang saya perlu lakukan dengan apa yang saya mahu dan apa yang saya lakukan. Ini akan menjadi kali pertama berbuat demikian.

Namun berbeza dengan orang yang tidak ikhlas, dia akan memilih orang atau golongan yang akan membantunya sebagai amalan baik. Jika orang yang tidak ikhlas dalam beribadah semasa melakukan amal baiknya seperti memberi bantuan kepada orang lain lebih memilih orang yang kaya daripada orang yang miskin. Ini dia lakukan kerana ada rasa pamrih atau balasan daripada orang yang dibantunya.

Tidak mengapa

6. Niat tidak tulus

Sebagaimana dinyatakan dalam point-point sebelumnya bahawa orang yang tidak ikhlas dalam beribadah akan selalu mengharapkan pujian daripada orang biasa. Saya tiada pilihan selain yakin bahawa tiada tuhan selain Allah. Namun kerana harapan lain seperti pujian sehingga nantinya boleh lebih dikenali orang dengan kebaikan amalnya.

7.Inilah yang anda perlukan dan lakukan.

Orang yang ikhlas dalam ibadahnya pasti akan selalu merasa bersyukur telah diberikan kesempatan dan waktu untuk menjalankan ibadah dan amal-amal yang masih tergolong dalam beribadah kepada Allah demi mengharapkan ridho-Nya. Dengan demikian, orang yang sering bersyukur adalah orang yang sering berdo’a kerana rasa syukur yang dipanjatkan juga termasuk sesuatu do’a.

Ini tidak sama dengan yang lain. Terdapat ramai orang yang ingin tahu apa yang perlu dilakukan apabila mereka berada di dunia dan apa yang mereka mahu lakukan tanpa wang dan wang yang mereka miliki pada masa lalu.Dengan demikian, orang yang jarang bersyukur adalah orang yang jarang berdo’a. Dia lupa untuk bersyukur kerana sudah terbuai pujian-pujian yang memang diharapkannya diterima daripada orang biasa.

Itulah beberapa ciri-ciri orang yang tidak ikhlas dalam beribadah kepada Allah yang dapat dijelaskan. Dah lambat nak guna, jadi lambat lagi nak makan. Salah satu hal yang boleh ditekankan di sini bahawa Allah tidak akan membeda-bedakan amal ibadah yang dilakukan oleh hamba-Nya selama ini dia melakukannya dengan niat yang tulus dan ikhlas serta mengharapkan ridho-Nya semata-mata.

Tanpa perlu mengharapkan pelbagai pujian daripada sesama makhluk-Nya demi membuktikan bahawa dia termasuk orang atau hamba yang baik. Lakukanlah amal ibadah kita dengan lillahi ta’ala (hanya kerana Allah). Kit ini mempunyai istilah yang sama dengan hamba-Nya yang senantis diberikan rasa ikhlas dan mendapat ridho-Nya dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan. Amin.


Islam Dalam Perspektif Tentang Kehidupan

[Foto Illustrasi] Dalam perjalanan hidup, hubungan dengan Allah adalah sauh utama, bertindak sebagai asas untuk keamanan, tujuan, dan kekuat...