hidup di dunia ibarat pelaut yang menempuh ombak yang bergelora dan angin yang tiada henti. Malah dunia, itu sendiri tiada pernah berhenti menempuh arus ruang alam semesta. Namun tetap bergerak di atas garisan yang ditetapkan olih Allah Rabul Jalil. Kita pun menempuh kehidupan didunia yang terus bergerak, namun adakalanya kita "bersauh sebentar" untuk melepas lelah, untuk menilai diri, untuk muhasabah keberadaan kita di dunia yang sebentar cuma.
Saturday
Sentiasa Bersyukur Bila Ada Kebaikan.
Biar Bijak Memilih Sahabat.
Rasulullahﷺ mengingatkan kita supaya bijak memilih sahabat kerana kita menjadi seperti orang yang kita bergaul. Kawan yang baik ialah mereka yang mempunyai akhlak dan etika yang baik yang harus kita cita-citakan untuk menyempurnakan diri kita. Sebagai ibu bapa, adalah menjadi tanggungjawab kita untuk memastikan anak-anak kita mempunyai kawan yang menjadi contoh teladan yang baik kepada anak-anak kita.
Carilah Kefahaman yang mantap bila beragama.
Diriwayatkan bahawa Al-Hasan Al-Basri rahimahullah berkata:
“Demi Allahسُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, tidak ada seorang pun yang dilimpahkan rezeki kekayaan dunia dan kemudian tidak takut ini mungkin satu rencana terhadapnya [kerana kesalahannya] kecuali orang yang kekurangan kembalikan harta dunia dari seseorang dan orang itu ada tidak menyangka bahawa pilihan yang baik telah dibuat untuknya kecuali orang yang [juga] kurang kecerdasan dan suara pendapat.” pendapat.”
-[Ibn Abi Al-Dunya, artikel Dham Al-Dunya]
Salah satu fitnah zaman moden dewasa ini ialah merebaknya ideologi “materialisma” atau kebendaan. Ideologi ini berdasarkan gagasan bahwa material iaitu harta atau kekayaan merupakan kayu ukur mulia atau tidaknya seseorang. Semakin kaya seseorang bererti ia dipandang sebagai orang mulia dan semakin sedikit material atau harta yang dimilikinya bererti ia dipandang sebagai seorang yang hina dan tidak patut dihormati. Maka di dalam sebuah masyarakat yang telah diwarnai oleh kebendaan, setiap anggota masyarakat akan berlumba-lumba mengumpulkan harta sebanyak mungkin dengan apa cara sekalipun samada dengan jalan halal, syubhah ataupun haram. Dalam sebuah masyarakat yang berideologi kebendaan, semua orang menjadi sangat irihati dan bercita-cita menjadi kaya setiap kali melihat ada orang berlimpah ruah harta bendanya di dalam kehidupan mereka. Keadaan ini persis sebagaimana masyarakat Mesir di zaman hidupnya seorang tokoh yang kaya raya bernama Qarun yang digambarkan di dalam Al-Qur’an :
فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَـٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَـٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍۢ ٧٩
”Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar".
(QS Al-Qashshash: 79)
Zaman kita dewasa inipun keadaannya agak mirip dengan zaman Qarun tersebut. Berbagai kemewahan dari tokoh-tokoh yang kaya terdiri dari penguasa, ahli politik, ahli perniagaan, artis, jaguh sukan dan lain-lain dipertontonkan di televisyen dan media massa lainnya sehingga masyarakat berasa kagum dan tentunya menjadi irihati dan bercita-cita ingin menjadi hartawan seperti mereka pula. Sebegitu kuatnya cita-cita tersebut sehingga kadang-kadang muncullah berbagai peristiwa dan aktiviti yang mengerikan di tengah-tengah masyarakat kita dek kerana mengejar kebendaan seperti perdagangan bayi, pengedaran dadah, penjualan organ tubuh, pelacuran, rasuah, pencurian, rompakan dan lain-lainnya.
Semua itu dilakukan kerana terbuai dengan mimpi ingin secara spontan menjadi seorang yang kaya. Bardasarkan suasana ini, amat patutlah apabila Rasulullahﷺ mengajarkan kita suatu prinsip yang penting dalam hal untuk menghindari berkembangnya kemungkinan faham kebendaan di tengah masyarakat.
Wallahu a’lam bishawab.
Sunday
Zuhud -Cinta Allah,Cinta Rasul [2]
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Al-Junayd رَحِمَهَا ٱللَّٰهُ,berkata, “Guruku al-Sarî رَحِمَهَا ٱللَّٰهُ, jatuh sakit. Kami tidak tahu obat untuk menyembuhkan penyakitnya dan juga tidak tahu sebab sakitnya. Tabib yang berpengalaman memberikan resep kepada kami. Oleh karena itu, kami menampung air seninya ke dalam sebuah botol. Lalu, tabib itu melihat dan mengamatinya dengan seksama.
Kemudian dia berkata, ‘Aku melihat air seni ini seperti air seni seorang pencinta (al-‘âsyiq).’ Aku seperti disambar petir dan jatuh pingsan. Botol itu pun jatuh dari tanganku. Kemudian, aku kembali kepada al-Sarî dan mengabarkan hal itu kepadanya. Dia tersenyum dan berkata: ‘Allahﷻ mematikan apa yang dia lihat.’ Aku bertanya, ‘Wahai guru, apakah mahabbah itu tampak jelas dalam air seni?’ Dia menjawab, ‘Benar.’”
Al-Fudhayl رَحِمَهَا ٱللَّٰهُ, berkata, “Apabila ditanyakan kepadamu, apakah engkau mencintai Allahﷻ? Diamlah. Sebab, jika engkau menjawab ‘tidak’, engkau menjadi kafir. Sebaliknya, jika engkau menjawab ‘ya’, berarti sifatmu bukan sifat para pencinta Allahﷻ. Maka waspadalah dalam mencintai dan membenci (sesuatu).”
Sufyân berkata, “Barangsiapa mencintai orang yang mencintai Allahﷻ, berarti dia mencintai Allahﷻ. Barangsiapa memuliakan orang yang memuliakan Allahﷻ, berarti dia memuliakan Allahﷻ.
Sahl berkata, “Tanda cinta kepada Allah adalah cinta kepada al-Quran. Tanda cinta kepada Allahﷻ dan Al-Quran adalah cinta kepada Rasulullahﷺ. Tanda cinta kepada Rasulullahﷺ adalah cinta kepada Sunnahnya. Tanda cinta kepada Sunnahnya adalah cinta kepada akhirat. Tanda cinta kepada akhirat adalah benci dunia. Tanda benci dunia adalah tidak mengambilnya kecuali sebagai bekal dan perantara menuju akhirat.”
Abû al-Hasan al-Zanjânî berkata, “Pokok ibadah itu adalah tiga anggota badan, yaitu telinga, hati, dan lidah. Telinga untuk mengambil pelajaran, hati untuk bertafakur, sedangkan lidah untuk berkata benar, bertasbih, dan berdzikir.
Sebagaimana Allahﷻ befirman:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًۭا كَثِيرًۭا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةًۭ وَأَصِيلًا ٤٢,٤١
"Berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak- banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang"
(QS al-Ahzâb [33]: 41-42).”
Demikian dikutip dari Raunaq al-Majâlis. Al-Sarî رضي الله عنه berkata, “Aku bersama al-Jurjânî melihat tepung. Lalu, al-Jurjânî menelannya. Aku tanyakan hal itu kepadanya: ‘Mengapa engkau tidak memakan makanan yang lain?’ Dia menjawab, ‘Aku hitung di antara mengunyah dan menelan itu ada tujuh puluh kali tasbih. Karena itu, aku tidak pernah lagi memakan roti sejak empat puluh tahun yang lalu.’”
(والله أعلمُ بالـصـواب)
Zuhud, Cinta Allah, Cinta Rasul [1]
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ada yang mengatakan, apabila hamba mengetahui bahwa kesempurnaan yang hakiki tiada lain kecuali milik Allahﷻ dan setiap yang nampak sempurna dari dirinya atau orang lain adalah dari dan karena Allahﷻ, cintanya hanya milik dan kepada Allahﷻ. Hal itu menuntut keinginan menaati- Nya dan mencintai segala yang mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, mahabbah ditafsirkan sebagai keinginan untuk taat dan kelaziman.
Mengikuti Rasulullahﷺ dalam peribadatannya. Hal itu mengikut Rasulullahﷺ dalam peribadatannya. Hal itu merupakan dorongan menuju ketaatan kepada Allahﷻ, Al-Hasan رضي الله عنه berkata, “Beberapa kaum bersumpah setia di hadapan Rasulullahﷺ.
‘Wahai Rasulullahﷺ, sungguh kami mencintai Tuhan kami.’ Maka turunlah ayat di atas.” Bashar al-Hâfî berkata, “Aku bermimpi bertemu dengan Rasulullahﷺ. Beliau bertanya ‘Wahai Basyar, tahukah engkau, dengan apa Allahﷻ meninggikan kamu di antara kawan-kawanmu?’
“Tidak, wahai Rasulullahﷺ,” jawabku. Beliau bersabda, “Dengan baktimu kepada orang-orang saleh, nasihatmu kepada saudara-saudaramu, kecintaanmu kepada sahabat-sahabatmu dan pengikut sunnahku, dan kepatuhanmu kepada sunnahku.” Selanjutnya Rasulullahﷺ bersabda, “Barangsiapa menghidupkan sunnahku, dia telah mencintaiku. Dan, barangsiapa mencintaiku, pada hari kiamat dia bersamaku di surga.”
Di dalam Hadis masyhur disebutkan bahawa orang yang berpegang pada sunnah Rasulullahﷺ ketika orang lain berbuat kerusakan dan terjadi pertikaian di antara para penganut mazhab, dia memperoleh pahala dengan seratus pahala syuhada. Demikian disebutkan dalam Syari‘ah al-Islâm.
Rasulullahﷺ berkata, “Semua umatku masuk surga kecuali orang yang tidak menginginkannya.” Para sahabat bertanya “Siapa yang tidak menginginkannya?”
Rasulullahﷺ menjawab, “Orang yang menaatiku masuk surga, sedangkan orang yang durhaka kepadaku tidak menginginkan masuk surga. Setiap amalan yang tidak berdasarkan sunnahku adalah maksiat.”
Seorang ulama sufi berkata, “Kalau Anda melihat seorang guru sufi terbang di udara, berjalan di atas laut atau memakan api, dan sebagainya, sementara dia meninggalkan perbuatan fardhu atau Sunnah secara sengaja, ketahuilah bahwa dia berdusta dalam pengakuannya. Perbuatannya bukanlah karâmah. Kami berlindung kepada Allahﷻ, dari yang demikian.”
Al-Junayd رضياللهعنه berkata, “Seseorang tidak akan sampai kepada Allahﷻ, kecuali melalui Allahﷻ,. Jalan untuk sampai kepada Allahﷻ adalah mengikuti al- Mushthafâ (Nabi Muhammad) Rasulullahﷺ"
(والله أعلمُ بالـصـواب)
Iman & Taqwa - Untuk Penenang Jiwa
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
IMAN & TAQWA Tak dimungkiri, iman kita ada kalanya naik dan adakalanya turun . Ketika iman kita sedang memuncak, bukan saja ibadah wajib yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, ibadah-ibadah sunnah pun tidak kita abaikan. Sebaliknya, di saat iman kita sedang mengendur, bukan saja ibadah-ibadah sunnah yang kita tinggalkan, ibadah-ibadah wajib pun kita kerjakan setengah hati penuh kelalaian.
Ketika iman kita sedang pada puncaknya tentu tak ada masalah—memang itulah yang kita dambakan. Sebaliknya, ketika iman kita sedang mengendur, tentu hal itu sebaiknya tidak terjadi. Kita pun tidak menginginkan demikian.
Kerananya kita harus berusaha agar sedapat mungkin iman kita sentiasa penuh. Namun, apa daya, hidup kita tak selamanya nyaman dan hati kita pun tak selamanya tenteram. Rintangan dan godaan hampir setiap saat menerpa kita. Godaan, pelbagai baik nafsu dan maksiat semakin bertambah dewasa ini.
Pada masa kini, apabila materialisme mengalir dan hedonisme mengalir begitu pantas. Jika tiada pertolongan dari Allahﷻ, sudah tentu dia akan melakukannya hancur dan terjun kita masuk ke dalam jurang kehinaan dan kemaksiatan—na‘ûdzu billâh min dzalik. Kita berlindung kepada Allahﷻ dari perkara-perkara dengan itu.
Kita mesti berusaha untuk mengekalkan iman kita stabil. Terdapat beberapa usaha yang boleh kita lakukan. Salah satu usaha ini ialah membaca buku yang sentiasa boleh mengingatkan anda dan mendorong kita untuk terus mendekatkan diri sendiri kepada Allahﷻ.
Untuk mewujudkannya, kami menulis ini adalah usaha untuk mengingatkan anda.
Kami untuk kembali dekat dengan miliknya dan kekal dalam lindunganNya:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ ٣١
"ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian "
(QS âli ‘Imrân [3]:31).
(والله أعلمُ بالـصـواب)
MUKASYAFAH QULUB
Thursday
Allahﷻ akan mencukupkan rezeki. - Bagi Yang Taqwa dan Syukur
Allahﷻ akan mencukupkan rejeki.
Allahﷻ akan mencukupkan segala kerperluan dan kepuasan batin bagi seseorang yang bertawakal semata mata karena allah setelah dia berusaha dan berikhtiar dengan hati yang bersih dan sabar.
Bertawakal setelah melaksanakan ihktiar kepada Allahﷻ adalah sesuatu yang disukai Allahﷻ dan akan dimasukkan dalam golongan orang orang yang sabar dan berkecukupan dalam keadaan apapun. Firman Allahﷻmenyebutkan:
فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ ١٥٩
“Sesungguhnya allah itu mencintai dan menyayangi orang orang yang bertawakal.”
(Qs.Ali Imran:159)
Dari Saiyiduna Umar bin khathab رضي الله عنه, dari Rasulullahﷺ bersabda dengan jelas bahwa:
“Seandainya kalian sungguh sungguh bertawaakal kepada Allahﷻ, sesungguhnya allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allahﷻ memberikan rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan perutnya yang lapar lalu kembali lagi tetapi dalam keadaan kenyang.”
(HR. Imam ahmad, Tirmidzi, ibnu hibban serta Al hakim)
Islam Dalam Perspektif Tentang Kehidupan
[Foto Illustrasi] Dalam perjalanan hidup, hubungan dengan Allah adalah sauh utama, bertindak sebagai asas untuk keamanan, tujuan, dan kekuat...
-
Qurrata a'yun" (قُرَّةَ أَعْيُنٍ) "Qurrata a'yun" (قُرَّةَ أَعْيُنٍ) secara literalnya bermaksud "Penyejuk ...
-
[Foto Illustrasi] Dalam perjalanan hidup, hubungan dengan Allah adalah sauh utama, bertindak sebagai asas untuk keamanan, tujuan, dan kekuat...
-
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ SEBAIK-BAIK NASIHAT : Sebaik-baik nasehat ialah nasihat yang diberikan kepada seseora...















