Tuesday

Pesan Rasulullah SAW - Bersyukur dan Bersabar

                                          بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 



Nabi Muhammad saw bersabda:

 “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Ada kebaikan baginya dalam segala sesuatu, dan itu hanya untuk orang yang beriman. Jika dia mendapat nikmat, dia bersyukur, itu baik untuknya. Jika dia ditimpa kesusahan dia bersabar dan itu juga baik baginya." 

[Muslim] 

Ulasan: 

Apabila kita mengalami sesuatu yang baik dalam hidup kita maka kita harus berterima kasih kepada orang di sekeliling kita dan jika kita percaya kepada makhluk yang agung, maka kita harus berterima kasih kepada Tuhan juga. Apabila kita mengalami kesusahan, maka hendaklah kita bersabar dan mengharunginya. Pada masa senang dan selesa, kita tidak seharusnya berbangga dengan apa yang kita ada; dalam masa kesusahan, kita tidak seharusnya menjadi putus asa dan jatuh ke dalam kemurungan. Jika kita beringat bahawa kita benar-benar tidak tahu keadaan mana yang terbaik untuk kita, maka lebih mudah untuk kita melalui jatuh bangun kehidupan. Kadang-kadang, melalui beberapa kesukaran adalah yang terbaik untuk kita walaupun kita mungkin tidak memahaminya pada masa itu. banyak.

Bersyukur dan Sabar Saat Mendapat Cubaan

Dari Abu Yahya Suhaib bin Sinan Radhiyallahu anhu ia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ  إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya. [1]

KOSA KATA HADITS

عَجَبًا : Menakjubkan sekali. Setiap manusia akan kagum atau heran jika melihat sesuatu yang luar biasa dan tidak masuk akal.

السَّرَّاءُ : Kegembiraan, yaitu sesuatu yang menyenangkan dirinya.

الضَّرَّاءُ : Kesusahan, yaitu sesuatu yang membahayakan atau menimpa badannya. Termasuk juga (segala sesuatu yang buruk) yang berkenaan (menimpa) keluarga, anak, dan hartanya.

SYARAH HADITS

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ

Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin

Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla tidak menetapkan sesuatu, baik itu taqdir kauni atau syar’i, melainkan di dalamnya terkandung kebaikan dan rahmat bagi para hamba-Nya. Di dalam cobaan, ujian, musibah, petaka, kesulitan, kefakiran, penyakit, dan kematian, semua ini terkandung hikmah yang amat besar yang tidak mungkin bisa dinalar oleh akal manusia.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Andai kata kita bisa menggali hikmah Allâh Azza wa Jalla yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun, akal kita sangat terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit, dan ilmu semua makhluk akan sia-sia (tidak ada artinya) jika dibandingkan dengan ilmu Allâh Azza wa Jalla, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia (tidak ada artinya) di bawah sinar matahari. Dan ini pun hanya gambaran saja, yang sebenarnya tentu lebih dari sekedar gambaran ini.”[2]

Berbagai cobaan, ujian, penderitaan, penyakit, kesulitan, dan kesengsaraan mempunyai manfaat dan hikmah yang sangat banyak.



[1]Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 2999 (64); Ahmad, VI/16; Ad-Darimi, II/318 dan Ibnu Hibban (no. 2885, at-Ta’lîqatul Hisân ‘alâ Shahîh Ibni Hibbân).

[2]Syifâ-ul ‘Alîl fî Masâ-ilil Qadhâ’ wal Qadar wal Hikmah wat Ta’lîl, III/1083




Saturday

Sentiasa Melihat Ke Bawah

 





Rasulullah mengingatkan kita bahawa kita harus bergembira dengan apa sahaja yang kita miliki dan jangan melihat dengan pandangan cemburu kepada mereka yang memilikinya dengan lebih baik. Apabila kita melihat kepada mereka yang mempunyai lebih daripada kita, maka kita tidak akan pernah senang dengan keadaan dan keadaan kita. Tetapi apabila kita melihat mereka yang kurang daripada kita, bukan untuk memperkecilkan mereka, tetapi lebih kepada gembira dengan apa yang kita ada, maka kita akan mengalami kegembiraan dan kebahagiaan dalam hidup kita. Hari ini, ramai orang kehilangan keseronokan hidup kerana mata mereka sentiasa tertuju kepada orang kaya dan terkenal, dan oleh itu, kerana mereka tidak seperti mereka, mereka berada dalam keadaan kesedihan dan kesedihan yang berterusan.





Sentiasa Bersyukur Bila Ada Kebaikan.

 


Apabila kita mengalami sesuatu yang baik dalam hidup kita maka kita harus berterima kasih kepada orang di sekeliling kita dan jika kita percaya kepada makhluk yang agung, maka kita harus berterima kasih kepada Tuhan juga. Apabila kita mengalami kesusahan, maka hendaklah kita bersabar dan mengharunginya. Pada masa senang dan selesa, kita tidak seharusnya berbangga dengan apa yang kita ada; dalam masa kesusahan, kita tidak seharusnya menjadi putus asa dan jatuh ke dalam kemurungan. Jika kita beringat bahawa kita benar-benar tidak tahu keadaan mana yang terbaik untuk kita, maka lebih mudah untuk kita melalui jatuh bangun kehidupan. Kadang-kadang, melalui beberapa kesukaran adalah yang terbaik untuk kita walaupun kita mungkin tidak memahaminya pada masa itu. 


Biar Bijak Memilih Sahabat.

 


Rasulullah mengingatkan kita supaya bijak memilih sahabat kerana kita menjadi seperti orang yang kita bergaul. Kawan yang baik ialah mereka yang mempunyai akhlak dan etika yang baik yang harus kita cita-citakan untuk menyempurnakan diri kita. Sebagai ibu bapa, adalah menjadi tanggungjawab kita untuk memastikan anak-anak kita mempunyai kawan yang menjadi contoh teladan yang baik kepada anak-anak kita.




Carilah Kefahaman yang mantap bila beragama.

  


Diriwayatkan bahawa Al-Hasan Al-Basri rahimahullah berkata:

“Demi Allahسُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, tidak ada seorang pun yang dilimpahkan rezeki kekayaan dunia dan kemudian tidak takut ini mungkin satu rencana terhadapnya [kerana kesalahannya] kecuali orang yang kekurangan kembalikan harta dunia dari seseorang dan orang itu ada tidak menyangka bahawa pilihan yang baik telah dibuat untuknya kecuali orang yang [juga] kurang kecerdasan dan suara pendapat.” pendapat.”

-[Ibn Abi Al-Dunya, artikel Dham Al-Dunya]

Salah satu fitnah zaman moden dewasa ini ialah merebaknya ideologi “materialisma” atau kebendaan. Ideologi ini berdasarkan gagasan bahwa material iaitu harta atau kekayaan merupakan kayu ukur mulia atau tidaknya seseorang. Semakin kaya seseorang bererti ia dipandang sebagai orang mulia dan semakin sedikit material atau harta yang dimilikinya bererti ia dipandang sebagai seorang yang hina dan tidak patut dihormati. Maka di dalam sebuah masyarakat yang telah diwarnai oleh kebendaan, setiap anggota masyarakat akan berlumba-lumba mengumpulkan harta sebanyak mungkin dengan apa cara sekalipun samada dengan jalan halal, syubhah ataupun haram. Dalam sebuah masyarakat yang berideologi kebendaan, semua orang menjadi sangat irihati dan bercita-cita menjadi kaya setiap kali melihat ada orang berlimpah ruah harta bendanya di dalam kehidupan mereka. Keadaan ini persis sebagaimana masyarakat Mesir di zaman hidupnya seorang tokoh yang kaya raya bernama Qarun yang digambarkan di dalam Al-Qur’an : 

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَـٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَـٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍۢ ٧٩

”Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar".

(QS Al-Qashshash: 79) 


Zaman kita dewasa inipun keadaannya agak mirip dengan zaman Qarun tersebut. Berbagai kemewahan dari tokoh-tokoh yang kaya terdiri dari penguasa, ahli politik, ahli perniagaan, artis, jaguh sukan dan lain-lain dipertontonkan di televisyen dan media massa lainnya sehingga masyarakat berasa kagum dan tentunya menjadi irihati dan bercita-cita ingin menjadi hartawan seperti mereka pula. Sebegitu kuatnya cita-cita tersebut sehingga kadang-kadang muncullah berbagai peristiwa dan aktiviti yang mengerikan di tengah-tengah masyarakat kita dek kerana mengejar kebendaan seperti perdagangan bayi, pengedaran dadah, penjualan organ tubuh, pelacuran, rasuah, pencurian, rompakan dan lain-lainnya.  

Semua itu dilakukan kerana terbuai dengan mimpi ingin secara spontan menjadi seorang yang kaya. Bardasarkan suasana ini, amat patutlah apabila Rasulullah mengajarkan kita suatu prinsip yang penting dalam hal untuk menghindari berkembangnya kemungkinan faham kebendaan di tengah masyarakat.

Wallahu a’lam bishawab.



Sunday

Zuhud -Cinta Allah,Cinta Rasul [2]

  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ  


Al-Junayd رَحِمَهَا ٱللَّٰهُ,berkata, “Guruku al-Sarî رَحِمَهَا ٱللَّٰهُ, jatuh sakit. Kami tidak tahu obat untuk menyembuhkan penyakitnya dan juga tidak tahu sebab sakitnya. Tabib yang berpengalaman memberikan resep kepada kami. Oleh karena itu, kami menampung air seninya ke dalam sebuah botol. Lalu, tabib itu melihat dan mengamatinya dengan seksama.

Kemudian dia berkata, ‘Aku melihat air seni ini seperti air seni seorang pencinta (al-‘âsyiq).’ Aku seperti disambar petir dan jatuh pingsan. Botol itu pun jatuh dari tanganku. Kemudian, aku kembali kepada al-Sarî dan mengabarkan hal itu kepadanya. Dia tersenyum dan berkata: Allahﷻ mematikan apa yang dia lihat.’ Aku bertanya, ‘Wahai guru, apakah mahabbah itu tampak jelas dalam air seni?’ Dia menjawab, ‘Benar.’”

Al-Fudhayl رَحِمَهَا ٱللَّٰهُ, berkata, “Apabila ditanyakan kepadamu, apakah engkau mencintai AllahﷻDiamlah. Sebab, jika engkau menjawab ‘tidak’, engkau menjadi kafir. Sebaliknya, jika engkau menjawab ‘ya’, berarti sifatmu bukan sifat para pencinta Allahﷻ. Maka waspadalah dalam mencintai dan membenci (sesuatu).”

Sufyân berkata, “Barangsiapa mencintai orang yang mencintai Allahﷻ, berarti dia mencintai Allahﷻ. Barangsiapa memuliakan orang yang memuliakan Allahﷻ, berarti dia memuliakan Allahﷻ.

Sahl berkata, “Tanda cinta kepada Allah adalah cinta kepada al-Quran. Tanda cinta kepada Allahﷻ dan Al-Quran adalah cinta kepada Rasulullah. Tanda cinta kepada Rasulullah adalah cinta kepada Sunnahnya. Tanda cinta kepada Sunnahnya adalah cinta kepada akhirat. Tanda cinta kepada akhirat adalah benci dunia. Tanda benci dunia adalah tidak mengambilnya kecuali sebagai bekal dan perantara menuju akhirat.”

Abû al-Hasan al-Zanjânî berkata, “Pokok ibadah itu adalah tiga anggota badan, yaitu telinga, hati, dan lidah. Telinga untuk mengambil pelajaran, hati untuk bertafakur, sedangkan lidah untuk berkata benar, bertasbih, dan berdzikir.

Sebagaimana Allahﷻ befirman: 

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًۭ

ا كَثِيرًۭا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةًۭ وَأَصِيلًا ٤٢,٤١

"Berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak- banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang"

 (QS al-Ahzâb [33]: 41-42).”


‘Abdullâh dan Ahmad bin Harb berada di suatu tempat. Lalu, Ahmad bin Harb memotong sehelai daun rumput. Kemudian ‘Abdullâh berkata kepadanya, “Engkau mengambil lima hal yang melalaikan kalbumu dari bertasbih kepada Maulamu. Engkau terbiasa sibuk dengan selain dzikir kepada Allahﷻ. Engkau jadikan hal itu sebagai jalan yang diikuti orang lain, dan engkau mencegahnya dari bertasbih kepada Tuhannya. Engkau bebankan kepada dirimu hujjah (argumen) Allahﷻ pada hari kiamat.”

Demikian dikutip dari Raunaq al-Majâlis. Al-Sarî رضي الله عنه berkata, “Aku bersama al-Jurjânî melihat tepung. Lalu, al-Jurjânî menelannya. Aku tanyakan hal itu kepadanya: ‘Mengapa engkau tidak memakan makanan yang lain?’ Dia menjawab, ‘Aku hitung di antara mengunyah dan menelan itu ada tujuh puluh kali tasbih. Karena itu, aku tidak pernah lagi memakan roti sejak empat puluh tahun yang lalu.’”


(والله أعلمُ بالـصـواب)




Zuhud, Cinta Allah, Cinta Rasul [1]

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 



Ada yang mengatakan, apabila hamba mengetahui bahwa kesempurnaan yang hakiki tiada lain kecuali milik Allahﷻ dan setiap yang nampak sempurna dari dirinya atau orang lain adalah dari dan karena Allahﷻ, cintanya hanya milik dan kepada Allahﷻ. Hal itu menuntut keinginan menaati- Nya dan mencintai segala yang mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, mahabbah ditafsirkan sebagai keinginan untuk taat dan kelaziman.  

Mengikuti Rasulullah dalam peribadatannya. Hal itu mengikut Rasulullah dalam peribadatannya. Hal itu merupakan dorongan menuju ketaatan kepada  Allahﷻ, Al-Hasan رضي الله عنه berkata, “Beberapa kaum bersumpah setia di hadapan Rasulullahﷺ.

‘Wahai Rasulullah, sungguh kami mencintai Tuhan kami.’ Maka turunlah ayat di atas.” Bashar al-Hâfî berkata, “Aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Beliau bertanya ‘Wahai Basyar, tahukah engkau, dengan apa Allahﷻ meninggikan kamu di antara kawan-kawanmu?’

“Tidak, wahai Rasulullah,” jawabku. Beliau bersabda, “Dengan baktimu kepada orang-orang saleh, nasihatmu kepada saudara-saudaramu, kecintaanmu kepada sahabat-sahabatmu dan pengikut sunnahku, dan kepatuhanmu kepada sunnahku.” Selanjutnya Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menghidupkan sunnahku, dia telah mencintaiku. Dan, barangsiapa mencintaiku, pada hari kiamat dia bersamaku di surga.”

Di dalam Hadis masyhur disebutkan bahawa orang yang berpegang pada sunnah Rasulullah ketika orang lain berbuat kerusakan dan terjadi pertikaian di antara para penganut mazhab, dia memperoleh pahala dengan seratus pahala syuhada. Demikian disebutkan dalam Syari‘ah al-Islâm.

Rasulullah berkata, “Semua umatku masuk surga kecuali orang yang tidak menginginkannya.” Para sahabat bertanya “Siapa yang tidak menginginkannya?”

Rasulullah menjawab, “Orang yang menaatiku masuk surga, sedangkan orang yang durhaka kepadaku tidak menginginkan masuk surga. Setiap amalan yang tidak berdasarkan sunnahku adalah maksiat.”

Seorang ulama sufi berkata, “Kalau Anda melihat seorang guru sufi terbang di udara, berjalan di atas laut atau memakan api, dan sebagainya, sementara dia meninggalkan perbuatan fardhu atau Sunnah secara sengaja, ketahuilah bahwa dia berdusta dalam pengakuannya. Perbuatannya bukanlah karâmah. Kami berlindung kepada Allahﷻ, dari yang demikian.”

Al-Junayd رضياللهعنه berkata, “Seseorang tidak akan sampai kepada Allahﷻ, kecuali melalui Allahﷻ,Jalan untuk sampai kepada Allahﷻ adalah mengikuti al- Mushthafâ (Nabi Muhammad) Rasulullahﷺ"

(والله أعلمُ بالـصـواب)



Islam Dalam Perspektif Tentang Kehidupan

[Foto Illustrasi] Dalam perjalanan hidup, hubungan dengan Allah adalah sauh utama, bertindak sebagai asas untuk keamanan, tujuan, dan kekuat...